Buah Lokal vs Buah Impor

Buah Lokal vs Buah Impor

Beri tahu teman-teman Anda

Buah dengan sejuta manfaatnya tentu menjadi alasan pemerintah dalam menyerukan kepada masyarakat agar selalu mengkonsumsi buah setiap harinya. Mengingat pentingnya buah dalam pemenuhan gizi masyarakat, Pemerintah pun mengatur dalan Peraturan Presiden No. 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Perbaikan Gizi. Dalam aturan tersebut ditekankan bahwa konsumsi buah – buahan diperlukan untuk menanggulangi masalah gizi, terutama balita, karena gizi yang didapatkan anak balita mempengaruhi perkembangan otak dan fisiknya secara langsung dikemudian hari.

Hal yang sama pun digagas oleh Kementrian kesehatan Indonesia melalui momen Hari Gizi Nasional dengan mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi buah dan sayur setiap hari. Mewujudkan ajakan Kementrian kesehatan ini, rasanya tidak terlalu sulit, pasalnya jumlah ketersediaan buah – buahan di Indonesia bisa dikatakan berlimpah, dan bukan merupakan bahan pangan yang sulit didapatkan di pasaran, baik itu pasar tradisional ataupun pasar modern, hingga supermarket. Namun sebelum membahas lebih jauh mengenai ketersediaan buah di Indonesia, baik itu buah lokal ataupun Impor, berikut ulasan mengenai manfaat buah untuk tubuh manusia.

Super Sehat, Ini Dia 7 Manfaat Unik Buah dan Sayuran

Manfaat Buah-buahan

Kandungan buah – buahan sangat bermanfaat dan dibutuhkan tubuh manusia untuk kesehatan, berikut ulasan mengenai manfaat buah – buahan:

1. Sumber Vitamin

Bukan rahasia umum lagi jika, buah – buahan adalah bahan pangan alami yang memberikan manfaat untuk kesehatan tubuh manusia. Buah-buahan menjadi  sumber berbagai vitamin. Vitamin yang terkandung dalam buah – buahan, berfungsi menangkal zat – zat yang dapat merusak fungsi organ tubuh.

2. Sumber Air dan Gizi

Kandungan air dan mineral pada buah – buahan dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh. Buah yang mengandung banyak air membantu pemenuhan kebutuhan cairan pada tubuh manusia. Selain untuk memenuhi kebutuhan cairan manusia, buah – buahan juga mengandung kabrohidrat , fruktosa dan glukosa yang dibutuhkan tubuh untuk memenuhi kebutuhan kalori per hari.

3. Sumber Antioksidan

Buah – buahan juga menjadi sumber antioksidan yang alami bagi tubuh manusia. Sebagai mana yang kita ketahui antioksidan sangat penting untuk menangkal racun – racun yang masuk kedalam tubuh yang akan memberikan efek negatif pada kesahatan manusia.

 

4. Obat-obatan Alami dan upaya pencegahan berbagai penyakit.

Erat kaitannya dengan sumber vitamin dan antioksidan, buah dapat dijadikan obat – obatan alami, seperti menguatkan tulang, menurunkan tekanan darah, sebagai makanan diet , dan daya tahan tubuh, kadar gula dan kolesterol darah.

Setelah mengetahui manfaat buah – buahan yang baik untuk tubuh, kita juga harus mengetahui berapa jumlah buah–buahan yang harus dikonsumsi, guna memenuhi kebutuhan gizi per hari nya. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), menganjurkan jumlah konsumsi buah – buahan sebanyak 150- 400 gram/ hari. Jika dikonversikan ke contoh buah aslinya, kira – kira sebanyak 3 buah pisang ambon ukuran sedang dan 1 potong papaya ukuran sedang atau 3 buah jeruk ukuran sedang. Anjuran yang juga disampaikan oleh National Health and Medical Research Council (NHMRC) untuk mengkonsumsi buah yang baik adalah dua jenis buah setiap harinya.

Tingkat konsumsi buah–buahan di Indonesia

Kurangnya konsumsi buah – buahan akan berdampak langsung pada fungsi pencernaan tubuh, metabolisme hingga penyakit kronis seperti kanker, stroke dan Jantung. Pada penelitian yang dirilis dalam Medicine Journal pada tahun 2016 menuliskan bahwa bahwa semakin tinggi konsumsi buah per hari dapat menurunkan rasio risiko kematian dari berbagai sebab seperti penyakit kardiovaskular, koroner, iskemik, dan stroke.

Namun, aktualnya konsumsi buah – buahan di Indonesia, masih dibawah angka konsumsi buah – buahan yang dianjurkan. Menurut data Badan Pusat Statistik 2016, konsumsi buah – buahan di Indonesia masih berada pada angka 67 gram per hari. Sedangkan menurut data Kementerian Pertanian menuliskan bahwa penduduk Indonesia mengkonsumsi buah hanya sebanyak 32,67 kg/kap/tahun. Dan tren konsumsi buah – buahan di Indonesia pun cenderung menurun, terlihat pada tabel dibawah ini

Saatnya rutin jalani pola hidup sehat dengan konsumsi buah-buahan. Klik disini..

Jika ditelisik lebih jauh lagi, rendahnya konsumsi buah – buahan di Indonesia, dipengaruhi oleh beberapa aspek, seperti budaya, ekonomi dan produksi komoditi tersebut. Jika dlihat dari sisi budaya, hal ini tercermin darim masyarakat Indonesia belum menempatkan buah – buahan sebagai makanan yang wajib di konsumsi setiap hari. Masyarakat Indonesia dengan kebiasaannya jika sudah mengkonsumsi makan – makanan berat seperti nasi dan lauk pauk, dalam pemahanan mereka kebutuhan pangan nya sudah terpenuhi dan tidak harus dilengkapi dengan buah – buahan. Atau dengan kata lain, buah – buahan hanyalah tambahan pangan yang sifatnya tidak wajib atau makanan pendukung saja.

Hal ini juga  biasanya dipengaruhi oleh tingkat perekonomian masyarakat. Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah, lebih cenderung lebih memilih mengalokasikan uang mereka untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti beras dan lauk pauk.

Gambar 2. Hubungan Pendapatan Masyarakat dengan Konsumsi Buah

Berbeda dengan masyarakat yang pendapatannya tergolong menengah ke atas, masyarakat kelas ini sudah mengalokasikan uang belanja pangan nya untuk membeli buah – buahan. Hal ini terlihat dari data yang BPS 2016 mengenai korelasi tingkat pengeluaran masyarakat terhadap konsumsi buah – buahan.

Masyarakat yang memiliki pengeluaran yang tinggi di asumsikan sebagai masyarakat dengan kehidupan ekonomi yang lebih sejahtera, sedangkan masyarakat yang kecendrungan pengeluaran nya lebih kecil digolongkan sebagai masyarakat yang kesejahteraan ekonominya cenderung lemah. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa Semakin tinggi pengeluaran seseorang, tingkat konsumsi buah – buahan sebagai bahan pangan sehari – hari pun lebih banyak dibandingkan dengan konsumsi buah sesorang yang memiliki pengeluaran lebih kecil. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengeluaran kesejahteraan atau tingkat perekonomian mempengaruhi konsumsi buah – buahan.

Mau coba produk olahan dari buah segar? Lihat disini

Hal lain yang mempengaruhi rendahnya konsumsi buah adalah akses keterjangkauan buah – buahan dan jumlah produksi buah – buahan pada suatu tempat. Beberapa jenis buah – buahan, memiliki daya tahan yang rendah dan cepat rusak, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mendistribusikan beberapa jenis buah – buahan ke suatu daerah pun terbatas. Hanya daerah – daerah yang memiliki jarak dekat yang bisa terdistribusi dengan baik. Selain itu untuk angka produksi buah – buahan di Indonesia pun tergolong tinggi. Kualitas tanah di berbagai daerah di Indonesia sangat mendukung untuk memproduksi berbagai jenis buah – buahan guna memenuhi jumlah minimum konsumsi buah – buahan yang disarankan oleh WHO.

 

Jika dilihat dari angka produksi buah – buahan di Indonesia yang dirilis oleh Kementrian Pertanian 2013, jika pada tahun 2012 jumlah penduduk Indonesia adalah sebesar 243,56 juta jiwa, maka ketersediaan buah-buahan pada tahun 2012 adalah 75,91 kg/kap/tahun, angka tersebut memenuhi batas kecukupan konsumsi buah – buahan yang dianjurkan oleh WHO. Namun, kondisi dan kualitas alam Indonesia yang diketahui sangat berpotensi memproduksi berbagai buah – buahan nyata nya tidak selaras dengan apa yang ada diatas kertas. Jumlah produksi buah – buahan tergolong cukup dan berlimpah, namun angka impor untuk komoditi buah – buahan tetap saja selalu ada dan bisa dibilang cukup tinggi. Meskipun sudah diimpor,  tetapi jumlah konsumsi  buah – buahan oleh masyarakat masih belum terpenuhi dari angka standar rekomendasi WHO, terutama untuk masyarakat dengan tingkat ekonomi yang rendah.

Jika produksi buah – buahan di Indonesia mencukupi, lantas apakah yang membuat adanya buah impor yang masuk ke Indonesia dengan jumlah yang cukup fantastis. Bagi sebagian pelaku bisnis , tentu ini adalah keputusan yang menguntungkan dari kepentingan pebisnis/ importir, namun bagi para petani lokal , tentu ini bisa menjadi ancaman untuk bersaing dengan produk buah impor. Memang tidak dapat dipungkiri, adanya buah impor dapat menambah varian dari buah – buahan yang bisa di konsumsi, terutama bagi masyarakat dengan pendapatan yang cukup tinggi. Buah impor sering dijadikan alternatif konsumsi untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Buah Lokal Vs Buah Impor

Secara kondisi alam dan geografis, Indonesia di karuniai iklim dan tanah yang cocok untuk memproduksi berbagai jenis buah – buahan dan juga tergolong sangat subur. Sayangnya, kondisi ini tidak menutup kemungkinan – kemungkinan untuk masuknya buah – buahan dari luar negeri atau yang kita sebut dengan buah impor. Sebelum membahas mengenai pengaruh buah Impor atau lokal untuk perekonomian negara dan juga para petani. Ada baiknya kita membahas dari segi kualitas buah – buahan yang membedakan buah lokal dan impor.

Kualitas buah – buahan erat kaitannya dengan kesegaran suatu buah, dalam hal ini buah lokal memiliki tingkat kesegaran yang lebih baik dibandingkan dengan buah impor. Hal ini disebabkan karena rantai supply dan distribusi buah lokal lebih pendek dibandingkan dengan buah impor. Buah lokal yang dipanen oleh para petani dapat langsung dipasarkan dan didistibusikan ke berbagai daerah dengan waktu yang relatif singkat jika dibandingkan dengan lama proses logistik buah impor. Untuk itu dari kesegaran  buah lokal memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan buah impor.

Juice, Smoothies dan Buah Segar Mana yang Lebih Sehat?

Pendistribusian buah – buah impor yang memakan waktu cukup lama karena dikirim dari berbagai negara dengan menggunakan rantai supply dan distribusi yang sangat panjang, acap kali membuat para produsen buah impor menambahkan bahan pengawet sebagai solusi untuk mempertahankan kesegaran buah. Kontaminasi dari bahan – bahan kimia sebagai bahan pengawet ini pun tentu menurunkan kualitas dari buah – buahan itu sendiri terutama dampaknya untuk tubuh manusia. Sehingga kemurnian buah lokal masih menjadi daya saing dengan buah impor.

Selanjutnya soal rasa, rasa buah lokal cenderung lebih baik karena dipengaruhi dengan kemurniannya (tanpa bahan pengawet) dan kesegarannya. Selain itu karena proses logistik buah – buah lokal yang prosesnya tidak sepanjang buah impor, membuat harga jual buah lokal dapat lebih murah dan terjangkau oleh berbagai tingkat ekonomi konsumen. Kendati demikian, tidak semua buah lokal memiliki harga jual dibawah buah impor, saat ini dipasaran pun ada banyak buah – buah lokal yang harganya justru lebih tinggi dibanding buah impor. Penyebabnya adalah masalah infrastruktur di daerah – daerah tertentu yang belum memadai, sehingga biaya pendistribusiannya menjadi tinggi, kemudian berimbas kepada harga jual di pasaran.

Jalani pola hidup sehat melalui detoksifikasi dengan konsumsi buah-buahan. Klik disini..

Dari segala kelebihan buah lokal, ada beberapa daya tarik tersendiri buah impor yang membuat konsumen lebih cenderung mengkonsumsi buah impor. Beberapa daya tariknya diantara lain ialah tampilan. Secara visual, buah impor lebih baik bentuk atau tampilan fisiknya, bisa dilihat dari jeruk lokal dan jeruk impor. Meski jeruk lokal tidak kalah secara rasa jika dibandingkan dengan jeruk impor, sayangnya untuk tampilan jeruk impor memiliki tampilan dan warna yang lebih menarik, warna buah impor lebih cerah dan kulit buah lebih mulus, untuk beberapa restoran yang menonjolkan nilai tampilan, mereka cenderung memilih buah atau jeruk impor untuk dijual. Walaupun hanya soal tampilan, faktanya ini mampu menarik konsumen untuk membeli.

Buah impor tetap dikonsumsi orang,  karena memang ada beberapa jenis buah yang kualitasnya lebih baik jika dibandingkan buah lokal, dan varian buah impor yang tidak dihasilkan di dalam negeri.

Kualitas dan kuantitas jenis buah lokal juga akan mempengaruhi derasnya importir buah untuk Indonesia. Tercatat pada sepanjang tahun 2018, buah apel, anggur, pear dan lainnya memiliki angka impor yang tinggi. Untuk komoditi apel angka impor mencapai 108.042 ton selama kurun waktu 7 bulan, angka ini naik 48% dari periode tahun sebelumnya. Sedangkan untuk buah anggur menembus angka 36.254 ton selama kurun waktu 7 bulan dan mengalami kenaikan 15%.

Dilansir dari Tirto.id dengan sumber data Badan Pusat Statistik, berikut beberapa buah impor yang masuk ke Indonesia dengan jumlah yang cukup besar. Jika kita coba bandingkan dengan angka produksi pertanian dengan komoditi buah – buahan di Indonesia berdasarkan data Kemendikbud (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) Indonesia pada tahun 2016. Buah Pisang tercatat sebagai buah dengan nilai produksi tertinggi di Indonesia. Begitu pun dengan jeruk. Selaras dengan statistik yang dirilis BPS pada tahun 2017 mengenai produksi buah di Indonesia. Buah pisang memiliki jumlah produksi tertinggi yaitu sekitar 7.162.685 ton, mangga 2.203.793 ton dan jeruk.

Pisang dan jeruk sebagai hasil produksi lokal, nyatanya masih masuk dalam daftar buah yang diimpor oleh Indonesia, dengan angka yang tidak bisa dibilang sedikit. Nilai impor jeruk hanya dalam kurun waktu 7 bulan bisa mencapai 5 ton dan pisang 0,3 ton. Apakah hal ini akan berimbas pada petani – petani pisang dan jeruk yang masih diimpor? untuk hal tersebut akan kita bahas lebih lanjut pada pembahasan selanjutnya.

Fokus kepada kelebihan buah impor, buah impor tetap memiliki metode promosi dan marketing yang baik. Pada beberapa supermarket besar buah – buahan impor mendomonasi rak – rak buah. Sehingga untuk segmen pasar atau calon konsumen tertentu lebih mudah mengkonsumsi buah impor, tak jarang konsumsi buah – buahan impor sudah menjadi habit atau kebiasaan seseorang yang taraf hidupnya tergolong tinggi. Para importir buah biasanya berkerjasama dengan berbagai supermarket untuk memasok buah yang mereka impor, dan mengadakan berbagai promosi – promosi guna meningkatkan penjualan. Strategi ini tampaknya cukup jitu, banyak masyarakat Indonesia yang akhirnya beralih ke jeruk Impor karena promosi – promosi yang ditawarkan pada supermarket atau pasar modern tertentu.

Berdasarkan uraian diatas, dapat dirangkum berbagai kelebihan – kelebihan buah import dan lokal. Kelebihan masing – masing buah tersebut akan dijelaskan pada martiks dibawah ini

Gambar 3. Martiks kekurangan dan kelebihan buah lokal dibandingkan dengan buah impor

Setalah membahas mengenai kelebihan dan kekurangan buah lokal dan impor dari segi kualitas, pemasaran, produksi hingga distribusi, selanjutnya kita akan membahas mengenai efek yang ditimbulkan dari buah impor bagi petani Indonesia dan strategi – strategi apa saja yang harus dilakukan untuk membut buah lokal dapat bersaing dengan buah impor dan konsumsi buah – buahan masyarakat Indonesia dapat meningkat.

Efek Buah Impor Bagi Petani Lokal

Pasokan buah impor selain menambah variansi atau jenis buah – buahan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, terutama buah – buah yang langka diproduksi di Indonesia. Dari sudut pandang yang berbeda, kehadiran buah impor menambah sederet problematika petani lokal. Berdasarkan data BPS pada tahun 2010, jumlah impor buah di Indonesia berada pada angka $685 juta yang kemudian angka tersebut melonjak pada tahun 2014, sekitar $804 juta Jika kita bandingkan dengan data ekspor buah, nilai nya hanya mencapai $210 juta pada 2014. Hal ini menunjukan adanya defisit perdagangan dari sector buah – buahan.

Tips Diet Alami Dan Cepat Dengan Buah Dan Sayuran

Mengkaji data tersebut, terlihat bahwa buah – buahan di pasok ke Indonesia dari luar negeri dengan jumlah yang banyak, menggerus perekonomian petani lokal. Tercatat pada tahun lalu, produk buah – buahan yang dihasilkan petani lokal menumpuk. Terlebih jika disandingkan dengan produk impor yang secaa tampilan memang lebih menarik dari pada buah – buah lokal membuat daya saing produk lokal menjadi turun. Hal ini pasti berimbas langsung dengan pendapatan para petani lokal. Kondisi tersebut membuat para petani menjadi lesu untuk memproduksi buah – buahan lebih banyak, kurang termotivasi sehingga menjadikan kegiatan bercocok tanam buah – buahan hanya sebagai sampingan yang tidak bisa dijadikan sebagai sumber utama perekonomian mereka.

Melihat hal ini, pemerintah rasanya wajib mengatur dan mengendalikan pasokan buah impor yang mengusik perekonomian petani lokal Indonesia. Saat ini pemerintah telah mengatur pasokan buah Impor ke Indonesia. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 dan 16 Tahun 2012, hortikultura impor yang masuk ke Indonesia, hanya boleh masuk melalui empat pintu. Yakni melalui Bandara Soekarno Hatta, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Belawan Medan, dan Pelabuhan Makassar. Dan melalui beberapa pelabuhan yang ada di kawasan perdagangan bebas (FTZ) seperti, Kepulauan Bintan, Batam dan Karimun dengan syarat buah yang masuk tidak merembes keluar wilayah tersebut. Pembatasan akses masuknya buah impor ini ditujukan untuk memperketat pemeriksaan oleh Badan Karantina Pertanian agar buah yang masuk bebas dari kandungan zat – zat yang berbahaya bagi kesehatan.

Mau coba produk olahan dari buah segar? Lihat disini

Dengan adanya peraturan yang membatasi jumlah buah – buah impor yang masuk ke Indonesia, tentunya akan memberi dampak yang sangat baik untuk mendorong semangat petani lokal dalam memproduksi buah – buahan dengan kualitas yang baik.

Strategi Produksi dan Peningkatan Daya Saing Buah Lokal

Meskipun pembatasan pasokan buah – buahan impor ke Indonesia telah dibatasi pemerintah, buah – buahan impor akan tetap ada di pasaran. Untuk itu perlu adanya upaya peningkatan daya saing buah lokal, untuk menyelamatkan keberadaan petani lokal. Upaya peningkatan daya saing terhadap buah impor bukan tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah dan petani itu sendiri, dengan upaya mengimbau masyarakat untuk mengkonsumsi buah lokal juga tentunya.

Perencanaan dan upaya peningkatan kualitas dan daya saing buah lokal haruslah dilakukan dengan serius agar tujuan nya tercapai. Beberapa upaya peningkatan yang harus dilakukan antara lain:

Jalani pola hidup sehat melalui detoksifikasi dengan konsumsi buah-buahan. Klik disini..

  1. Memastikan bibit – bibit buah adalah bibit yang memiliki kualitas yang baik, agar menghasilkan buah yang baik pula. Pemerintah pun bisa mendukung dengan membantu pembiayaan atau memberikan bantuan pinjaman modal dengan suku bunga yang rendah, sehingga para petani mampu membeli bibit- bibit yang berkualitas baik, yang buahnya mampu bersaing di pasaran dengan buah – buah impor.
  2. Peningkatan kualitas sistem manajemen , seperti membangun kawasan hortikultura yang yaitu sesuai dengan agroekologinya, sehingga terbentuk zonasi-zonasi tertentu. Selain itu pembinaan kepada petani mengenai teknis khusus untuk meningkatkan produksi. Salah satu bentuk konkrit dukungan pemerintah tertuang pada Perda N0. 3 tahun 2013 yaitu tentang Perlindungan Buah Lokal. Pemerintah melakukan serangkaian manajemen mulai dari hulu ke hilir seperti, kegiatan perencanaan, arahan kawasan, usaha dan produk, informasi, penelitian dan pengembangan, pemberdayaan, pembiayaan, pengawasan dan peran serta masyarakat. Hal ini diwujudkan dengan aturan untuk supermarket – supermarket menjual buah – buahan lokal, begitu pun tempat – tempat seperti hotel dan resto untuk menjadikan buah lokal sebagai bahan dasar untuk sajiannya.
  3. Peningkatan tekhnologi pertanian dan tekhnologi budidaya. Pengembangan ini dilakukan dengan standardisasi tertentu, shingga buah lokal memiliki standar kualitas baik dari segi warna, berntuk, rasa yang konsisten dan mampu bersaing dengan produk impor. Pengembangan teknologi lainnya yang perlu dilakukan adalah teknologi pasca panen dengan tujuan memperpanjang daya simpan buah – buahan dan memperkecil resiko penurunan kualitas selama proses distribusi.
  4. Mengatur harga jual buah – buahan, dengan manajemen produksi dan kualitas buah yang benar, harga – harga buah dijual lebih stabil dan hal ini juga akan berdampak kepada pendapatan yang didapat petani lokal. Cara lain meningkatkan pendapatan para petani adalah dengan menyederhanakan jalur rantai pasok dan pemasaran buah lokal, para petani dapat langsung memasok dan menjual buah – buahan yang mereka hasilkan kepada pedagang besar, sehingga dengan adanya penyederhanaan proses ini, petani pun bisa meraup untung lebih maksimal.
  5. Memperbaiki infrastuktur dan metode logistik buah – buahan. Buah lokal seharusnya dapat dipasok lebih cepat dan biaya distribusinya lebih murah dibandingkan dengan buah impor. Hal ini dapat diwujudkan jika kondisi infrastruktur baik, dan memaksimalkan proses logistiknya. Dengan mengatur dan merencanakan proses tersebut, tentunya akan berdampak kepada biaya produksi yang lebih efisien dan untuk yang lebih optimal.
  6. Mengoptimalkan proses karantina buah – buahan impor yang masuk ke Indonesia dengan memeriksa secara ketat kualitas, buah – buahan tersebut, terutama kandungan – kandungan yang dapat membahayakan calon konsumen. Hanya buah – buah yang memiliki kualitas baik saja yang dapat masuk ke Indonesia, dengan demikian jumlah buah import dapat ditekan dan memperbesar daya saing buah lokal.
  7. Setelah semua upaya internal dilakukan, selanjutnya mengupayakan sisi eksternalnya seperti mengkampanyekan buah lokal di masyarakat. Bentuk kampanye yang dapat dilakukan seperti melakuak promosi buah lokal dalam setiap acara resmi atau event – event tertentu, menyajikan buah lokal sebagai sajian pada acara tertentu, seperti acara pemerintahaan atau kenegaraan. Selain itu perlunya edukasi kepada masyarakat / konsumen, khususnya konsumen rumah tangga untuk menginfomasikan tentang pentingnya mengkonsimsi buah – buahan bagi kesehatan.

          Upaya – upaya diatas rasanya sangat memungkin dilakukan mengingat potensi buah lokal sebenarnya sangat luar biasa, didukung dengan kondisi tanah, iklim dan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Apabila potensi tersebut dapat di atur dan dikelola dengan baik, tentunya Indonesia mampu mewujudkan swasembada buah – buahan, dan lebih menekan lagi jumlah buah impor yang masuk ke Indonesia.

 


Beri tahu teman-teman Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *