Cinta Buah Lokal Bukti Cinta Termanis Untuk Negeri

Beri tahu teman-teman Anda

Selamat datang di negeri buah. 

Negeri yang mendapat amanah dengan kesuburan tanah. Para petani menabur benih dan tumbuhlah buah. Sebagian menancapkan batang dan batang pun berbuah. Tanah yang tidak ditanami petani pun ternyata menghasilkan buah. Negeri itu bukan negeri antah berantah. Negeri itu di sini, tempat kita memijakkan kaki dan sekian lama telah menjadi rumah.

Keberagaman telah menjadi takdir bagi Indonesia, pun dengan rupa-rupa tanaman buahnya. Seakan semua buah berkumpul di tanah ini sampai tidak memungkinkan lagi untuk beriri hati dengan negeri lain. Buah apel yang konon tidak bisa hidup di Indonesia, telah lama hadir di tanah Malang dan menghasilkan buah apel tematik. Stroberi yang menggemari iklim subtropis, sukses hidup di dataran tinggi Indonesia dan rupanya mampu beradaptasi di dataran rendah dengan varian berbeda. Kurma yang sejak lama disebut hanya cocok tumbuh di negeri bertanah kering, ternyata berhasil berbuah di negeri ini dengan penanganan yang tepat. Nyatanya, sangat banyak buah beriklim non-tropis dapat hidup di Indonesia, atau setidaknya memiliki kembaran dan substitusi di negeri ini berkat kesuburan tanah dan anugerah musimnya.

Berkat tangan-tangan petani, buah-buah yang dahulunya berasal dari luar Indonesia ini telah berubah menjadi buah-buah lokal yang cantik, mengawani buah-buah lokal lain yang telah lama berdiam diri di negeri ini. Sebut saja rambutan, durian, langsat/duku, belimbing, jambu-jambuan, nangka, cempedak, pepaya, sawo, kedondong, bengkoang, sirsak, dan masih banyak lagi. Pun, kita harus menambahkan buah-buah tersembunyi di hutan-hutan Borneo, Sumatra, Sulawesi dan Papua, baik yang mulai langka dan yang masih malu-malu mengenalkan diri. Inilah buah-buah Indonesia yang teramat membanggakan dan semestinya tidak boleh menghilang.

Baca Juga : 5 Buah Lokal Kaya Manfaat yang Hanya Bisa Dijumpai di Indonesia

Sudah Makan Buah Lokal Hari Ini ?

Sayangnya, jenis buah lokal yang hadir di pasaran jumlahnya jauh di bawah total jenis buah-buah yang ada di Indonesia. Bahkan, banyak buah lokal yang kini makin jarang dijumpai di pasaran, bahkan ada buah-buah lokal yang terkategori sebagai buah langka. Meski, kemunculannya sering disebut karena faktor musim, tetapi ini disebabkan pula karena masyarakat kita belum mendisiplinkan buah sebagai kebutuhan di atas meja makan selayaknya makanan pokok atau menjadikan buah sebagai makanan favorit. Banyak orang mengonsumsi buah hanya sesekali alias tidak rutin. Buah sering menjadi makanan pendamping kesekian. Mereka lebih memfavoritkan kudapan, kue-kue, dan snack

Sebagian lagi memang tidak menyukai buah, kecuali setelah diolah. Bahkan bagi yang lain, bisa makan buah saja sudah syukur, tanpa bisa lagi memprioritaskan konsumsi buah-buah lokal.

Jujur nih, apakah buah lokal sudah menjadi buah idola bagi teman-teman ? Atau malah masih belum bisa membedakan buah lokal dan buah impor ? 

Cinta Buah Lokal

Banyak orang menomorsatukan buah impor karena mengira kualitas buah impor terbaik dibanding buah lokal. Belum lagi  secara fisik, terlihat lebih mulus dibanding buah lokal. Hmm, benar tidak ? Masyarakat familiar dengan buah impor, karena untuk membuat salad saja, hampir semua buahnya adalah buah impor. Padahal salad buah tidak harus seperti salad-salad buah yang sering kita lihat. Kita bisa saja kreasikan buah lokal untuk menjadi salad buah. Kecuali untuk membuat rujak, baru deh yang terpikir buah-buah lokal. 

Buah lokal sebenarnya tidak kalah bergizi dan seharusnya menjadi idola di negeri sendiri.  Nah, ada banyak alasan untuk mencintai buah-buah lokal. Yuk, berani jatuh cinta dengan buah-buah Nusantara. Karena jatuh cinta dengan buah lokal itu sebenarnya mudah, kehilangannya yang berat.

Baca Juga : Buah Lokal Vs Buah Impor. Mana yang lebih Unggul?

5-buah-terbaik-untuk-detoksifikasi

10 Alasan Untuk Mencintai Buah Nusantara 

#1. Sangat Beragam

Berdasarkan Jurnal Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya yang dibuat oleh LIPI, ada sekitar 226 jenis buah-buahan asli Indonesia yang tersebar di berbagai provinsi dan pulau di Indonesia. Buah-buah di Indonesia sangat amat beragam, dari corak hingga rasa. Kita mungkin hanya akan menemukan satu jenis pisang di dunia barat, pun dengan harga yang mahal. Namun, ada puluhan jenis pisang di Indonesia, bahkan ada jenis pisang khusus untuk digoreng. Dari beragam pisang itu pun telah melahirkan lagi keberagaman kuliner.

Bicara satu buah saja, bisa akan panjang dan lama. Tengok  lagi mangga, yang memiliki banyak sekali jenis: gedong, manalagi, mangga apel, arumanis, mangga madu, golek. Di Indonesia, mangga pun rupanya masih memiliki kerabat, sebut saja kuweni, hambawang (bacang), kasturi, kemang. Dalam hal ini, jeruk tidak mau kalah. Jeruk-jeruk lokal benar-benar beragam, dari yang manis bisa dimakan langsung, ada pula jeruk untuk sambal dan campuran masakan. Mungkin, kita akan kebingungan ketika disuguhkan limau kuit khas Kalimantan Selatan dengan jeruk purut, karena meski serupa, keduanya berbeda. Jika saja kelengkeng (lengkeng) tidak dapat tumbuh di Indonesia, maka buah mata kucing bisa mewakilinya.  

Begitu pula dengan buah-buah lain, di mana satu buah bisa memiliki banyak rupa, kembaran dan generasi. Keberagaman buah ini makin memikat dengan adanya buah-buah hasil persilangan. Apakah ada yang pernah makan buah nangkadak? Ya, nangkadak adalah buah perpaduan nangka dan cempedak.

#2. Mudah Ditemukan

Buah lokal lebih mudah ditemukan ketika kita pergi ke warung sayur tetangga atau tukang sayur yang datang ke rumah. Buah-buah lokal juga jelas mudah ditemukan di lahan-lahan pekarangan. Berkat program tanam buah di perkotaan, nampak pohon-pohon mangga bertebaran di pinggir jalan. Pisang dan pepaya yang sekiranya tidak teringat kapan menanam, terlihat  tegak segar dengan buahnya yang mudah dipetik.

berdamai-dengan-maag-gerd

#3. Masak Pohon

Kelebihan buah-buah lokal adalah bisa dimakan langsung pada saat matang alias masak pohon. Ini berbeda dengan buah impor pada umumnya yang harus mengalami perjalanan panjang sehingga tidak memungkinkan masak pohon. 

#4. Bebas Pengawet

Berkat perjalanan yang jauh, umumnya buah impor dengan amat terpaksa menggunakan pengawet. Meski sudah memiliki batasan pengawet yang aman, dan tetap boleh dikonsumsi, kita tetap harus cerdas dalam memilih. Sementara buah lokal, terutama buah lokal setempat sudah semestinya bebas pengawet, karena pengiriman yang tidak teramat jauh dan berada dalam kemasan yang tidak lama. Bahkan, buah-buah yang tersedia di gerobak-gerobak tukang sayur biasanya adalah buah hasil panen masyarakat setempat, yang tentu saja bebas pengawet. Apalagi nih, kalau buahnya tumbuh di pekarangan sendiri. 

#5. Mendapat Manfaat yang Beragam

Berkat keberagaman jenis buah lokal, kita bisa mendapatkan pula beragam manfatnya. Patut diingat, bahwa setiap buah memiliki kandungan baik yang berbeda-beda. Vitamin, serat, mineral, nutrisi juga lemak yang berbeda pada tiap buah. Karena itu, para ahli menganjurkan mengonsumsi buah yang beragam agar mendapat hasil baik yang beragam pula untuk tubuh.

#6. Lebih Sehat

Buah lokal umumnya lebih sehat. Banyak buah lokal yang tumbuh organik berkat alam, ditanam masyarakat, atau justru tumbuh di tanah sendiri secara alami. Karena buah lokal dapat dinanti hingga masak pohon, dapat dikonsumsi tanpa pengawet, maka sudah selayaknya buah lokal memiliki nutrisi yang baik, serta lebih sehat dikonsumsi.

Baca Juga : Buah Lokal Lebih Unggul Dari Buah Impor, Benarkah?

#7. Menghargai Kekayaan Alam Negeri

Indonesia adalah negeri yang subur. Tanah yang sedari dulu terkenal kemakmurannya sungguh patut dijaga. Memilih buah lokal berarti mendukung keberlangsungan kekayaan alam di negeri ini. Pohon-pohon buah  yang ada saat ini terhitung sebagai bagian dari penghijauan. Pelestarian lingkungan ternyata dapat diupayakan dari menanam dan menjaga pepohonan buah. Sehingga mencintai buah lokal adalah bagian dari cinta kekayaan alam di negeri ini. Ini adalah langkah manis menghargai negeri sendiri.

#8. Mencegah Kelangkaan dan Kepunahan

Dulu, masyarakat sangat mudah menemukan buah ciplukan di depan mata mereka. Gratis, bebas petik, sampai dibuat permainan. Dewasa ini, penemuan ciplukan yang dijual di supermarket sempat menggegerkan. Buah yang makin sulit ditemukan ini, rupanya telah naik kelas bersanding harga dengan buah impor. Memang, harga yang mahal tidak menjadi patokan bahwa buah tersebut langka, karena harga bersifat relatif. Nilainya bisa saja berasal dari pembudidayaannya yang andal. Sisi positif ketika buah-buah yang dulunya dianggap tidak bernilai adalah makin dihargainya buah ini di tengah-tengah masyarakat, makin ada petani yang membudidayakannya, dan makin terjaga keberlangsungannya.

Data LIPI menyebut dari 226 jenis buah Indonesia, hanya 62 jenis buah yang dibudidayakan. Berarti, masih banyak buah-buah asli Indonesia yang belum kita kenal. Buah gandaria, meski bisa dijumpai di taman buah tetap membuat banyak orang kebingungan ketika disebut namanya. Siapa yang tahu kecapi? Mungkin banyak yang mengira hanya alat musik bernama demikian. Mungkin kita mengira buah durian selalu berduri, tetapi durian gundul dari NTB justru tampil tanpa duri. Salak hutan, buah serupa salak hanya akan kita temukan jika pergi ke hutan. Buah ini tergolong langka dan bisa saja punah, jika hutan tempatnya bernaung punah, karena itu penting melirik buah ini. 

Kelangkaan buah bisa dilihat dari makin jarang kemunculan buah tersebut, dengan membandingkan dahulu dan kini, kuantitas tanaman dan lokasi pertumbuhannya. Ada buah lokal yang muncul sesekali lalu hilang sekian lama. Buah yang langka kemungkinan memang karena tidak dibudidayakan, habitatnya minim atau lenyap, kurang atau belum dipahami berkhasiat sehingga terabaikan. Atau buah-buah ini memang hidup di kawasan endemik. Nah, agar buah-buah Indonesia ini tidak punah, maka semestinya kita turut mendukung pertumbuhan buah-buah lokal, mengonsumsi buah lokal, memprioritaskan serta mencintai buah lokal agar buah-buah lokal menjadi primadona di negerinya sendiri.

Ada beragam cara untuk menumbuhkan cinta terhadap buah lokal, bisa kiranya kita berkenalan dulu dengan buah-buah Indonesia. Apakah ada yang pernah mencicipi buah lahung, kapul, tarap, lobi-lobi, duwet, karamunting, asam keranji, cermai, atau buah bisbul ? 

#9. Dukung Petani Lokal

Dengan memilih buah lokal berarti kita turut serta mendorong pertumbuhan pangan lokal, serta mendukung petani-petani buah lokal. Buah lokal berarti termasuk pula buah-buah yang ditanam oleh para petani di Indonesia. Dari 226 jenis buah lokal, hanya 62 jenis yang telah dibudidayakan, artinya hanya sekitar 28% yang dikenal masyarakat pada umumnya. Ini berarti, buah-buah lokal yang belum dikenal umum masih punya peluang besar untuk terus dibudidayakan oleh petani, dan buah-buah yang telah dikenal umum, tetap harus lestari. Memilih dan memprioritaskan buah lokal berarti turut membantu kesejahteraan petani Indonesia.

Pandemi telah mengajarkan kita untuk kembali ke alam, menikmati buah-buahan dan turut menjaga kelestariannya. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, tercatat adanya kenaikan permintaan buah di masa pandemi. Kabar baiknya, buah lokal-lah yang mengisi kekosongan pasar buah impor, akibat terganggunya distribusi buah impor ke Indonesia. Berkat permintaan buah lokal yang tinggi, serta kesadaran untuk sehat dengan buah, para petani kita pun makin bersemangat untuk menanam.

Kita juga bisa mendukung petani lokal dengan mengonsumsi buah lokal sehari-hari. Membeli di pasar, atau membeli langsung dari petani. Dengan melakukan hal sederhana seperti ini kita sudah turut terlibat untuk #DukungPetaniLokal.

Baca Juga : 3 Alasan Mengapa Perlu #DukungPetaniLokal

#10. Bukti Cinta Negeri

Indonesia termasuk 20 negara penghasil buah terbesar di dunia, semestinya buah-buah lokal sudah sangat populer di dunia, apalagi di mata rakyatnya. Namun, Indonesia juga termasuk 5 negara pengimpor terbesar di dunia. Ini membuat buah lokal harus bersaing keras di negeri sendiri.

Meski pandemi menghasilkan kenyataan bahwa buah lokal melambung menjadi incaran, kita tetap harus mengedukasi diri dan masyarakat lain agar buah lokal terus teratas. Ini tentu tidak serta merta melarang keras mengonsumsi buah impor, ya. 

Agar buah Nusantara jangan sampai kalah bersaing dari buah impor, tentu buah lokal harus menguat di hati. Karena dengan cinta buah lokal itu merupakan salah satu bukti nyata kita menyayangi negeri ini.

Nah, untuk membuktikan cinta itu, yuk rajin mengonsumsi buah lokal. Ada banyak cara kok, jika kesulitan mengonsumsi buah secara langsung. Misal, menjadikan buah lokal sebagai jus seperti yang dilakukan IT’s Buah. Yuk, jangan ragu mengonsumsi dan mulai mencintai buah lokal.  Agar kita sehat, rakyat sehat, petani sejahtera, Indonesia berjaya.

Baca Juga : Aksi Nyata #DukungPetaniLokal Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri


Beri tahu teman-teman Anda