Penyakit, atau Gejala Detoksifikasi Tubuh?

Beri tahu teman-teman Anda

Gejala detoksifikasi tubuh sering disalahpahami sebagai gejala awal munculnya penyakit dan gangguan fungsi tubuh lainnya. Kenali perbedaan gejala detoksifikasi tubuh dan gejala penyakit agar Anda bisa menentukan tindakan yang tepat.

Gejala Detoksifikasi Tubuh atau Penyakit
Gejala Detoksifikasi Tubuh atau Penyakit?

Ahli bidang detox diet mengatakan bahwa saat menjalani detoksifikasi, tubuh akan mengeluarkan reaksi yang sering disalahpahami sebagai tanda penyakit atau gejala keracunan. Padahal, reaksi tersebut merupakan bagian dari gejala detoksifikasi tubuh.

Gejala detoksifikasi tubuh ini seringkali disebut dengan istilah healing crisis atau krisis penyembuhan. Sebab, gejala ini terjadi ketika tubuh sedang membersihkan racun yang berbahaya bagi kesehatan. Jadi, apa bedanya dengan penyakit ? Berikut IT’s Buah bahas selengkapnya untuk Anda.

 

Gejala Detoksifikasi Tubuh

Menurut situs Health Line, healing crisis yang terjadi pada detoks tidak jauh berbeda dengan health crisis yang terjadi pada program penyembuhan lainnya, seperti homeopathy, cleansing, maupun reflexology. Sehingga, sifatnya temporer dan biasa muncul pada awal proses penyembuhan.

Bedanya dengan penyakit ialah bahwa gejala detoksifikasi diakhiri dengan kondisi tubuh yang kian membaik, artinya lebih sehat dan bugar. Sementara, gejala penyakit cenderung mengarah pada penurunan kesehatan; itulah mengapa gejala penyakit perlu direspon dengan pengobatan.

Sayang, banyak orang melihat gejala detoksifikasi tubuh sebagai penyakit. Kemudian, mereka menyetop program detoks karena khawatir efeknya akan berbahaya bagi kesehatan. Padahal, detoksifikasi tubuh memang memiliki efek samping.

Sekilas, gejala detoksifikasi tubuh ini mirip dengan gejala yang muncul saat menjalani terapi pengobatan, seperti terapi penyakit lyme atau yang lainnya. Tetapi, gejala detoks sebenarnya berbeda dengan reaksi yang disebut dengan istilah JHR tersebut. Pada JHR, gejala dipicu oleh aktivitas obat sehingga sifatnya tidak jelas dan cepat hilang; biasanya berlangsung selama 24 jam.

Loading...

Pada detoks, reaksinya lebih alami karena tidak ditimbulkan oleh obat. Ini merupakan respon alami tubuh yang sedang mengalami detoksifikasi. Gejalanya cukup jelas, namun bervariasi. Paling tidak, inilah beberapa gejala detoksifikasi tubuh yang sering terjadi :

#1 Warna Urin Lebih Keruh

Gejala ini sering terjadi selama detoksifikasi. Dijelaskan dalam buku berjudul Diet Detoks, Cara Alami Menguras Racun Dalam Tubuh, perubahan warna itu disebabkan oleh toksin yang terkandung dalam air seni.

Singkatnya begini, sebelum detoks, Anda mungkin menyimpan residu di dalam tubuh. Residu tersebut bisa berasal dari obat, makanan, minuman, bahkan udara. Lalu saat dibersihkan melalui detoks, tubuh pun akan mengeluarkan residu tersebut melalui urin. Otomatis, warna urin pun berubah, yang mana sebelumnya bening, kini menjadi lebih pekat.

Tak hanya warna yang berubah, baunya pun ikut berubah. Dikatakan oleh Andang, penulis buku Diet Detoks, Cara Alami Menguras Racun Dalam Tubuh, bahwa bau urin menjadi lebih tajam karena di dalamnya mengandung residu obat.

#2 Mual

Sulit memang untuk menghindari mual saat proses detoksifikasi. Terlalu menekan pola makan akan berdampak pada peningkatan asam lambung. Ketika asam lambung meningkat, kemungkinan besar Anda akan merasa mual.

Untuk menghindari atau setidaknya mengurangi rasa mual tersebut, Anda bisa menjauhi sayuran yang mengandung gas, seperti kol, sawi, dan lain sebagainya. Usahakan untuk makan tepat waktu. Jangan biarkan perut kosong terlalu lama.

Sejatinya, detoks tidak hanya tentang diet, namun juga menjaga gaya hidup sehat. Jadi, Anda tidak perlu membatasi asupan kalori sedemikian ketat.

#3 Feses Berlendir

Saat detoks, frekuensi buang air besar mungkin akan lebih sering. Terkadang, feses yang dikeluarkan pun disertai lendir yang cukup kental. Hal ini boleh jadi dikarenakan kandungan toksin di dalam feses tersebut. Alhasil, feses pun mengalami perubahan, termasuk warnanya yang berubah menjadi kehijauan atau kehitaman.

Pada beberapa kasus, gejala detoksifikasi tubuh yang satu ini mampu mengurangi berat badan karena lancarnya usus dan pencernaan.

#4 Flu

Jika Anda baru memulai detoks, besar kemungkinannya Anda mengalami flu pada hari keempat. Itu dikarenakan tubuh masih melakukan penyesuaian terhadap pola makan yang menggunakan makanan organik.

Anda bisa mengatasinya dengan banyak minum air putih, beristirahat di tempat yang memiliki sirkulasi baik, dan berolahraga secukupnya. Perlu digarisbawahi, frekuensi olahraga benar-benar harus diperhatikan. Jangan sampai terlalu sering, namun juga jangan terlalu sedikit.

Ke depannya, Anda akan merasakan manfaat detoks. Nafas bakal menjadi lebih segar dan energi meningkat. Salah satu tanda bahwa ‘masa penyesuaian’ telah selesai ialah permukaan lidah bersih dari lapisan putih.

#5 Pusing

Pusing, salah satu efek samping yang harus siap dihadapi pelaku detoks. Karena, detoks memiliki konsep serupa dengan diet. Pembatasan asupan kalori tentunya menyebabkan pusing. Seringkali Anda juga harus menjauhi makanan tertentu, seperti nasi, makanan berlemak tinggi, minuman tinggi gula, dan lain sebagainya.

#6 Lemas

Ini sering terjadi, terutama bila Anda memiliki pola makan yang jauh berbeda dari diet detoks.

Misalnya, ketika Anda terbiasa mengonsumsi makanan tinggi lemak dan karbo, maka Anda akan menjadi lemas saat berhenti mengasup makanan tersebut selama beberapa hari.  Terutama jika Anda mengikuti program detoksifikasi dengan metode cold-pressed juice yang menggunakan buah dan sayur sebagai bahan utama.

Secara ilmiah, rasa lemas disebabkan oleh turunnya laju metabolisme basal dan tensi darah. Selain itu, rasa lemas juga disebabkan oleh menurunnya kadar gula.

Tenang saja, stamina Anda akan segera membaik setelah menjalani detox diet selama beberapa hari.

#7 Diare

Anda mungkin jarang mengalami gejala detoksifikasi tubuh yang satu ini, tetapi bukan berarti Anda tidak akan mengalaminya. Biasanya, diare terjadi karena Anda terlalu banyak mengonsumsi makanan/minuman probiotik.

Menurut ahli gizi dari Departemen Kesehatan FK-KMK UGM, minuman probiotik sebaiknya dikonsumsi sesuai anjuran. Sebab kalau terlalu banyak, makanan atau minuman probiotik dapat mengganggu pencernaan, salah satunya dapat menyebabkan diare.

Kebutuhan orang dewasa biasanya sekitar 20 miliar CFU per hari. Jadi usahakan jangan sampai melebihi jumlah tersebut. Dengan memperhatikan anjuran tersebut,  Anda tetap bisa meminum probiotik untuk membantu penyerapan mineral dan kesehatan cerna di dalam tubuh tanpa mengalami diare.

Pandai Membedakan Gejala Detoksifikasi Tubuh

Anda bisa saja mengalami gejala-gejala di atas dan tidak termasuk dalam kategori gejala detoksifikasi tubuh. Pada dasarnya, jika Anda mengikuti atau mencoba program detoksifikasi dan mengalami gejala di atas, besar kemungkinan gejal tersebut disebabkan karena proses detoks yang dialami tubuh.

Jika Anda belum pernah mengikuti program detoksifikasi tubuh, sebaiknya Anda berkonsultasi lebih dulu dengan ahli gizi kepercayaan Anda.

Ditambah lagi jika Anda memiliki kondisi kesehatan khusus yang mengharuskan Anda berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai perubahan gaya hidup atau pola makan. Untuk mengurangi resiko penyakit, berkonsultasi dengan ahli merupakan hal yang sangat direkomendasikan.

Umumnya, jika Anda baru memulai program detoksifikasi tubuh untuk pertama kali, Anda disarankan untuk menjalani detoks selama 3 hari dengan mengikuti panduan detoks tubuh yang tepat.

Konsultasi Detoks


Beri tahu teman-teman Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *