Racun Tubuh: Pengaruhnya Bagi Kesehatan Anda dan Cara Membersihkannya

Racun Tubuh: Pengaruhnya Bagi Kesehatan Anda dan Cara Membersihkannya

Beri tahu teman-teman Anda

Racun tubuh dikenal sebagai senyawa yang membahayakan kesehatan. Paparan toksin dalam waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan gangguan fungsi organ dan metabolisme tubuh. Efeknya sangat berbahaya, apalagi kalau dibiarkan tanpa penanganan. Lantas, bagaimana untuk menghindarinya?

Apa Itu Racun Tubuh, Efek, dan Cara Membersihkan
Mengenal efek racun tubuh dan cara Anda membersihkannya

Seberapa sering Anda menutup mulut ketika terpapar asap kendaraan?

Seberapa jauh jarak yang Anda ambil untuk menghindari area merokok di stasiun?

Secara otomatis, Anda akan menghindari zat-zat polutan yang tidak sedap dan mengganggu hidung. Apalagi jika kepulan asap terlihat di depan wajah Anda. Tanpa sadar, Anda pasti menutup hidung dan mulut.

Jika Anda sudah menggunakan masker hidung dan mulut sebagai perlindungan selama perjalanan, artinya Anda sudah lebih peduli pada kesehatan Anda dibandingkan kebanyakan orang.

Aktivitas di luar ruangan membuat tubuh Anda rentan terpapar toksin dan racun akibat polusi. Efek penumpukan racun bisa membahayakan tubuh Anda dalam jangka panjang.

Pencegahan adalah obat terbaik. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui bagaimana racun-racun yang berasal dari lingkungan bisa masuk ke tubuh Anda dan pengaruhnya bagi tubuh.

Loading...

Bagaimana Racun Mempengaruhi Tubuh Anda?

Anda mungkin sudah sering mendengar kata ini di berbagai  kesempatan. Namun, tahukah Anda apa racun itu ?

Melansir laman Intisari, racun tubuh merupakan segala macam senyawa berbahaya yang bersifat merugikan bagi kesehatan. Racun tubuh ini apabila terus dibiarkan dapat mempengaruhi kerja otak dan suasana hati (mood).

Pada otak, racun tubuh berpotensi menurunkan aktivasi pelepasan dopamin. Padahal, senyawa kimia ini berperan penting dalam menghubungkan sel saraf dan sel otot. Tak jarang, racun tubuh juga menurunkan fungsi serotonin sehingga seseorang menjadi mudah marah.

Konsekuensi ‘menimbun’ racun di dalam tubuh; dalam jumlah tertentu; rupanya juga dapat menghambat aliran darah. Akibatnya, perjalanan oksigen dan nutrisi menjadi kurang efisien. Kemampuan kognitif pun menurun seiring dengan buruknya kejernihan berpikir dan kesehatan mental.

Beberapa contoh racun tubuh misalnya adalah phthalates, bisphenol A, paraben, triclosan, arsenik, botulinum, benzena, timbal (lead), fenol, dan merkuri.

Detox bisa membantu mengurangi racun-racun tersebut. Sebab melalui detox, tubuh berkesempatan vakum dari berbagai aktivitas berat yang biasa dijalankan. Detox memungkinkan Anda mengistirahatkan tubuh dengan cara puasa atau membatasi makanan tertentu, dibarengi dengan peningkatan konsumsi buah atau sayur yang punya daya dukung terhadap pembersihan racun.

Pola makan dalam detox juga mengadopsi nutrisi seimbang. Sehingga, kerja organ dalam (seperti liver, ginjal, paru-paru, dan lain sebagainya) untuk mengeluarkan toksin menjadi lebih optimal.

Sama-sama Bahaya, Racun dan Toksin Berbeda?

Pada muka bahasan, tidak dibedakan antara racun tubuh dengan toksin, karena keduanya sama-sama memiliki efek bahaya bagi tubuh. Jadi, unifikasi kedua istilah tersebut cukup beralasan, tetapi ada baiknya kita mengetahui perbedaan di antara kedua istilah tersebut agar tahu cara menghadapinya.

Menurut jurnal yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI, racun dapat diartikan sebagai setiap bahan atau zat yang dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan reaksi kimiawi pada tubuh manusia yang dapat berujung pada penyakit ringan maupun berat.

Definisi serupa datang dari kamus Dorland, yang menyebutkan bahwa racun merupakan zat yang apabila diserap manusia, walaupun dalam jumlah sedikit, sudah cukup untuk memicu aksi kimiawi serta menyebabkan kerusakan pada gangguan kesehatan.  Penyerapan racun tersebut bisa melalui cara ditelan, dioleskan, maupun dihirup.

Adapun perbedaanya dengan toksin terletak pada asal senyawa beracun tersebut. Toksin merupakan senyawa berbahaya yang diproduksi oleh organisme hidup. Jadi, beda sekali dengan racun yang tidak diproduksi oleh organisme hidup. Kendati demikian, semuanya sama-sama memiliki efek menurunkan kesehatan.

Lebih jauh, racun dapat diklasifikasikan menjadi toksin tanaman, toksin lingkungan, dan toksin hewan. Bentuknya dapat berupa logam berat, racun gas, maupun senyawa organik.

Adapun besar kecilnya efek yang dapat ditimbulkan racun, tergantung pada konsentrasi dosisnya dalam tubuh manusia. Jadi, racun belum tentu dapat membuat kita ‘sakit’ . Bisa saja, tubuh bekerja normal walaupun telah terpapar racun. Misal, toksin yang terdapat pada cairan pembersih lantai.

Kalau diperhatikan, cairan pembersih lantai tidaklah menyebabkan Anda keracunan selama Anda menggunakan seperlunya. Namun dalam jumlah besar, apabila cairan pembersih lantai tersebut diminum, maka dapat mengakibatkan gangguan yang tidak mengenakkan, mulai dari pusing, mual hingga gejala keracunan (onset) kronis.

Kemampuan racun tubuh / toksik dalam mengganggu mekanisme biologi manusia tersebut diistilahkan dengan toksisitas. Toksisitas merupakan istilah relatif yang biasa dipergunakan untuk membandingkan suatu senyawa beracun dengan yang lainnya. Karenanya, wajar bila menyimpulkan cairan pembersih kurang bersifat toksik bila dibandingkan dengan arsenik.

Cara Racun Masuk Ke Dalam Tubuh

Cara racun masuk ke dalam tubuh bisa melalui proses eksposisi terhadap kulit, saluran cerna, pernapasan, dan sebagainya.

Racun Tubuh Masuk Melalui Kulit

Pemejanan merupakan cara yang paling lazim bagi racun masuk ke dalam tubuh manusia. Cara ini bisa terjadi ketika Anda sedang make up, mengepel lantai, minum obat topikal, maupun berangkat ke tempat kerja.

Pasalnya, toksin bisa terserap secara tidak sengaja melalui kulit sewaktu Anda berada di tengah udara berpolutan. Bisa juga menyebabkan luka pada kulit apabila bersentuhan langsung – dengan toksik. Bahkan, racun tubuh bisa terabsorbsi dari permukaan kulit menuju sistem sistemik, hal ini seperti yang dijelaskan oleh Wirasuta.

Racun Tubuh Masuk Melalui Saluran Cerna

Adapun cara lain racun masuk ke dalam tubuh manusia ialah melalui proses makan dan minum. Ketika Anda makan, minum, atau mengkonsumsi obat, racun dapat terbawa masuk ke dalam saluran cerna. Di dalam saluran pencernaan nantinya racun dapat menyebar melalui cara difusi pasif maupun difusi aktif. Terkadang, racun tidak sampai menimbulkan efek yang parah, namun sudah berhasil dibuang melalui feses atau urine.

Racun Tubuh Masuk Melalui Sistem Pernapasan

Inhalasi juga merupakan jalur yang rentan sebagai  akses masuk racun tubuh. Jalur ini memungkinkan senyawa berbahaya yang terdapat di udara menyelinap melalui sistem pernapasan.

Meskipun secara alami sistem pernapasan manusia mampu menyaring benda asing yang melintasinya, namun terkadang partikel kecil bisa lolos. Kemungkinan, itu dikarenakan ukurannya yang terlalu kecil sehingga tidak mampu difilter oleh rambut halus pada hidung maupun silia dan lendir pada trakea.

Kecepatan larut racun juga turut mempengaruhi mudah tidaknya senyawa tersebut merusak tubuh.  Semakin cepat larutnya, semakin mudah pula racun tersebut untuk diabsorpsi tubuh.

Efek Racun Tubuh Pada Paru-paru

Segala hal yang berlebihan tidaklah baik. Aturan ini saja berlaku baik untuk konsumsi makanan bernutrisi. Nah, apa yang terjadi jika racun mengedap dalam jumlah banyak di dalam tubuh?

Ada beberapa hal yang mungkin terjadi apabila Anda membiarkan racun tubuh mengendap dengan kadar tertentu dalam waktu lama.

#1 Bronkitis Akut

Racun dapat menyebabkan masalah pada lapisan membran tabung bronkial. Hal ini dikenal dengan istilah bronkitis akut. Adapun, racun seperti oksida besi, arsen, amonia, dan debu kapas mengakibatkan seseorang mengalami kondisi yang lebih parah, yakni bronkitis kronis.

#2 Gangguan Interstisial

Terlalu sering terpapar debu aluminium dan talk mineral dapat menyebabkan fibrosis paru atau gangguan interstisial. Tak hanya dua toksin tersebut, penyakit ini juga dapat disebabkan oleh paparan debu tanah liat kaolin, silika, fosgen, dan ozon.

#3 Edema Paru

Ketika cairan menumpuk di paru – paru, maka hal tersebut akan menghambat kapiler alveolar dan menyebabkan seseorang sulit bernapas. Terkadang, paru – paru tenggelam oleh cairan tersebut apabila kadar fosgen dan ozon terlalu banyak.

#4 Kanker Paru-paru

Diantara beberapa senyawa toksik yang dapat menyebabkan penyakit kanker paru – paru, yang terkenal ialah gas radon dan alpha radioaktif. Biasanya, paru – paru yang teracuni dua senyawa tersebut akan mengalami kerusakan oksidatif.

#5 Dermatitis Kontak

Biasanya gejala umum dermatitis kontak ialah gatal – gatal, lecet dan berwarna kemerahan. Tetapi tak jarang kulit mengalami pengelupasan atau penebalan (indurasi). Ada juga yang ditandai dengan edema, yakni suatu kondisi dimana sel – sel kulit menyimpan cairan.

Dermatitis kontak diklasifikasikan menjadi 2 macam, yakni dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi.

Dermatitis kontak iritan seringkali disebabkan oleh senyawa korosif dengan keasaman cukup ekstrim. Tingkat keparahannya mulai dari ringan, sedang, hingga berat. Pada kasus berat, dermatitis kontak iritan ditandai dengan sel kulit mengalami luka yang sulit dihilangkan.

Sementara itu, dermatitis kontak alergi agak berbeda. Kondisi ini diakibatkan oleh kepekaan tubuh seseorang terhadap senyawa kimia tertentu. Hal ini dapat dipicu sejumlah kecil alergen dan waktu terjadinya gejala keracunan (onset) bisa cukup pelan ( baru muncul setelah  2 – 3 hari eksposur).

Dermatitis kontak alergi bisa terjadi saat menggunakan produk pembersih wajah, make up, dan saat bersentuhan dengan bahan – bahan yang mengandung merkuri, nikel, asam abietik, formaldehid, hydroquinone, dan semacamnya.

#6 Urticaria

Paparan toksin terhadap tubuh juga dapat mengakibatkan urtikaria, yakni suatu kondisi dimana kulit mengalami gejala alergi dalam waktu sangat cepat. Urticaria ditandai dengan pelepasan histamin yang diikuti dengan efek edema jaringan dan gatal – gatal yang cukup parah.

Urticaria dapat terjadi ketika seseorang tersengat lebah. Orang tersebut bukan hanya mengalami gatal dan perih yang terasa membakar, namun juga berpotensi mengalami anafilaksis sistemik. Adalah suatu gejala alergi yang menyerang seluruh tubuh dan berakibat fatal.

#7 Steatosis

Steatosis, suatu kondisi ketika lipid menumpuk di liver dengan kadar melebihi 5  persen. Gangguan ini juga disebut fatty liver. Biasanya disebabkan oleh timbunan racun etanol, asam valproate, karbon tetraklorida, dsb.

#8 Hepatitis

Penyakit hati ini disebabkan oleh dimethylformamide yang mengakibatkan radang sel hati.

#9 Hipoksia Stagnan

Secara umum, hipoksia merupakan keadaan dimana jaringan kekurangan suplai oksigen. Namun, hipoksia terbagi menjadi beberapa jenis, salah satunya hipoksia stagnan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh racun, sehingga aliran darah menurun dan terjadilah vasodilatasi; yakni berkurangnya efisiensi pemompaan jantung.

#10 Hipoksia Anemia

Hipoksia anemia terjadi ketika aliran darah normal, namun kapasitas darah untuk membawa oksigen menurun. Penyakit ini bisa disebabkan oleh paparan karbon monoksida dalam waktu tertentu.

#11 Hipoksia Histotoxic

Jenis hipoksia lainnya ialah hipoksia histotoxic. Dari namanya dapat diketahui bahwa penyakit ini disebabkan oleh racun tubuh. Terjadi ketika oksigen didistribusikan dengan baik ke jaringan, namun jaringan tidak mampu menggunakannya secara maksimal.  Penyebabnya adalah racun HCN dan H2S.

#12 Leukimia

Ketika produksi leukosit (sel darah putih abnormal) meningkat, maka hal itu dinamakan leukimia. Dalam hal ini, produksi sel darah putih tidak terkendali sehingga menyebabkan perannya sebagai penunjang sistem kekebalan tubuh menjadi tidak efektif. Benzena digadang-gadang merupakan salah satu racun pemicunya.

#13 Kardiotoksik

Kardiotoksik dapat diakibatkan oleh alkohol. Keadaan ini ditandai oleh penurunan denyut nadi (bradikardia), peningkatan denyut nadi (takikardi), atau denyut nadi tidak teratur (aritmia). Selain alkohol, obat anti depresan juga dapat menyebabkan terjadinya gejala kardiotoksik seperti denyut nadi menjadi  tidak teratur.

#14 Axonopati

Terpapar racun berbahaya seperti karbon disulfida di tempat kerja dapat mengancam kesehatan secara serius. Seseorang bisa mengalami axonopati bila tidak segera menghindari lingkungan tersebut atau memulai detoksifikasi.

Mengutip artikel yang diterbitkan Kemenkes, axonopati atau kemunduran akson saraf dan myelin sekitarnya diakibatkan oleh hasil metabolisme x-hexane, hydralazine, dan y-diketones. Biasanya orang yang berpotensi mengalami gangguan axonopathy adalah pekerja di industri karet dan rayon viscose.

#15 Mielopati

Gangguan ini disebabkan oleh toksin yang mampu merusak integrasi insulasi myelin di sekitar akson. Penyebabnya antara lain adalah paparan racun hexachlorophene yang biasa dijumpai pada sabun bayi.

#16 Nefrotoksik

Organ dalam yang berperan penting dalam proses pembersihan racun tubuh ini nyatanya tidak ‘aman’ dari ancaman toksin. Salah satu jenis racun, kadmium ; misalnya dapat  menyebabkan gagal ginjal. Selain itu, beberapa zat yang berasal dari tumbuhan dan bakteri bisa memperbesar resiko nefrotoksik seseorang.

Saatnya Bersih-bersih & Kurangi Kadar Racun Tubuh

Ada beberapa racun tubuh yang hanya bisa ditangani melalui obat – obatan dan terapi. Namun tidak semuanya seperti itu, beberapa lainnya dapat dibersihkan melalui detox. Dengan minum jus setiap hari, Anda sudah melakukan detoks.

Jus khusus detox biasanya mengandung serat tinggi dan nutrisi yang dapat membantu proses pembersihan.

Patuhilah aturan makan selama detox. Perbanyak makan sayur dan buah. Dilansir dari Kompas, konsumsi makanan organik termasuk salah satu cara terbaik menghindari efek keracunan pestisida. Anda juga bisa mengkonsumsi daging dan susu yang berlabel organik.

Saat detox, Anda juga dilarang mengonsumsi lemak jenuh untuk mencegah toksin terikat dalam jaringan lemak tubuh.

Detox menyarankan Anda untuk memperbanyak minum air putih. Tujuannya agar racun tubuh dapat dialirkan keluar melalui urine maupun feses. Untuk menuai manfaat ini, Anda harus minum air putih sebanyak 2 liter per hari.

Cara – cara seperti itu diketahui mampu menetralkan; atau bahkan mengeluarkan; racun tubuh. Racun tubuh yang bisa dibersihkan melalui detoks misalnya racun yang menumpuk pada colon, liver, ginjal, darah, paru – paru dan semacamnya.

Mengutip penjelasan dari dr. Phaidon L Toruan yang dipublikasikan melalui Detik Health, racun pada liver dapat menyebabkan batu empedu. Oleh karena itu, diperlukan detoks liver untuk mengeluarkan atau mengurangi konsentrasi racun tersebut.

Mekanisme detoks liver diawali dengan berpuasa, lalu mengkonsumsi minyak zaitun sebanyak kurang lebih 100 cc. Liver akan mendorong empedu melakukan pemijatan yang membantu pengeluaran racun tubuh dan sisa – sisa batu yang mengendap.

Praktik detoks lainnya yang bisa mengeluarkan racun tubuh adalah detoks colon. Detoks ini menguras usus dari ampas makanan yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh.

Ampas tersebut mungkin saja sudah terakumulasi selama beberapa tahun, namun tidak juga dapat dikeluarkan. Melalui cara ini, Anda bisa membuang kotoran tersebut untuk memperbaiki sistem cerna.

Detoksifikasi dapat pula diterapkan untuk membersihkan racun alkohol, bisa hewan, dan meningkatkan metabolisme.

Detoks alkohol dilakukan dengan cara mengonsumsi cairan elektrolit dalam jumlah tertentu. Lalu, detoks bisa hewan dilakukan dengan cara pemberian penisilin kristal sebanyak jumlah yang diperlukan untuk melawan toksin.  Sementara, detoksifikasi untuk metabolisme tubuh dilakukan dengan menjaga pola makan seimbang dan memperbanyak konsumsi jus detoks / smoothies.


Beri tahu teman-teman Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Konsultasi ke CS