Stres: awal kolesterol tinggi

Stres: awal kolesterol tinggi

Beri tahu teman-teman Anda

Stres dapat menyebabkan peningkatan kolesterol jahat secara tidak langsung. Satu penelitian menemukan bahwa stres secara positif mempengaruhi kebiasaan makan yang kurang sehat dan pola makan sembarangan, yang diketahui sebagai faktor risiko kolesterol tinggi.

Gagal memanajemen stres dapat pengaruhi kesehatan fisik termasuk meningkatnya kolesterol

Sahabat sehat dalam sehari sudah berapa kali membaca berita kerusuhan, demo massa, dan lain-lain seputar omnibus law? Satu kali? Dua kali? Atau setiap membuka sosial media ada saja bahasan lain yang membuat stres? Terlepas dari apa pun pendapat Sahabat Sehat terkait kebijakan tersebut, secara tidak sadar berita buruk merupakan hal negatif yang terpatri dalam alam bawah sadar kita. Hal negatif menyebabkan peningkatan hormon kortisol dan juga stres. Duh, bagaimana bisa praktek hidup sehat kalau gagal manajemen stres?

Parahnya lagi, kadar stres yang tinggi merupakan sinyal-sinyal pemicu kolesterol. Cek fakta berikut:

Apa itu kolesterol?

Kerap kali kita mendengar kabar seseorang menderita kolesterol. Seberapa bahaya kolesterol sebenarnya? Kolesterol tinggi dapat meningkatkan resiko kemungkinan serangan jantung dan stroke. Tetapi jangan salah, stres juga bisa melakukannya. Beberapa penelitian menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara stres dan kolesterol.

Kolesterol adalah zat lemak yang ditemukan di beberapa makanan dan juga diproduksi oleh tubuh. Kandungan olesterol dalam makanan memang tidak sepenting lemak trans dan lemak jenuh dalam makanan kita. Lemak inilah yang bisa menyebabkan tubuh membuat lebih banyak kolesterol. Contoh makanannya beragam. Ada yang disebut kolesterol "baik" (HDL) dan "jahat" (LDL). Berikut merupakan kadarnya:

  • Kolesterol jahat, LDL: kurang dari 100 mg / dL
  • Kolesterol baik, HDL: lebih dari 60 mg / dL
  • Kolesterol total: kurang dari 200 mg / dL

Kolesterol jahat yang terlalu tinggi dapat menumpuk di arteri. Ini memengaruhi aliran darah ke otak dan jantung, yang dapat menyebabkan stroke atau serangan jantung. Bayangkan sebuah pipa yang harus mengalirkan air untuk taman setiap hari. Bila airnya  bersih, maka dipastikan aliran pipa akan selalu lancar. Namun bila airnya kotot, dapat
menempel di dindang pipa, aliran menjadi kecil dan tersumbat. Bahkan, pipa bisa bocor. Inilah gambaran kurang lebih mengapa kolesterol bisa mengakibatkan stroke bahkankematian.

Stres merupakan salah satu pemicu dalam meningkatnya tingkat kolesterol

Faktor Resiko Kolesterol Tinggi

Faktor-faktor penyebab risiko kolesterol tinggi meliputi :

Loading...
  • riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi, masalah jantung, atau stroke
  • kegemukan
  • diabetes
  • merokok tembakau

Anda mungkin berisiko tinggi kolesterol karena Anda memiliki riwayat keluarga, atau Anda mungkin memiliki riwayat keluarga dengan masalah jantung atau stroke. Tapi tidak perlu khawatir karena faktor herediter sangat kecil. Kebiasaan gaya hidup juga bisa berdampak besar pada kadar kolesterol. Obesitas, yang didefinisikan sebagai indeksmassa tubuh (IMT) >30 atau lebih tinggi, membuat Anda berisiko tinggi kolesterol. Diabetes juga dapat merusak bagian dalam arteri dan memungkinkan kolesterol menumpuk. Merokok dapat memiliki efek yang sama.

Selain itu jika Anda berusia 20 tahun atau lebih, dan tidak memiliki masalah jantung, American Heart Association merekomendasikan agar Anda memeriksakan kolesterol Anda setiap empat hingga enam tahun. Jika Anda pernah mengalami serangan jantung, meski sesaat, memiliki riwayat keluarga dengan masalah jantung, atau memiliki kolesterol tinggi, tanyakan dan konsultasi kepada dokter seberapa sering harus menjalanites kolesterol.

Hubungan stres dan kolesterol

Ada bukti kuat bahwa tingkat stres dapat menyebabkan peningkatan kolesterol jahat secara tidak langsung. Misalnya, satu penelitian menemukan bahwa stres secara positif terkait dengan kebiasaan makan yang kurang sehat, berat badan lebih tinggi, dan pola makan yang kurang sehat, yang semuanya diketahui sebagai faktor risiko kolesterol tinggi. Hal ini terbukti benar terutama pada pria berusia lanjut.

Studi lain yang berfokus pada lebih dari 90.000 orang menemukan bahwa mereka yang melaporkan diri lebih stres di tempat kerja memiliki peluang lebih besar untuk didiagnosis dengan kolesterol tinggi. Ini mungkin karena tubuh melepaskan hormon yang disebut kortisol sebagai respons terhadap stres. Kadar kortisol yang tinggi dari stres jangka panjang mungkin menjadi mekanisme di balik bagaimana stres dapat meningkatkan kolesterol. Adrenalin juga dapat dilepaskan, dan hormon ini dapat memicu respons "lawan atau lari" untuk mengatasi stres. Respon ini kemudian akan memicu trigliserida, yang dapat meningkatkan kolesterol “jahat”.

Terlepas dari alasan fisik mengapa stres dapat memengaruhi kolesterol, beberapa penelitian menunjukkan korelasi positif antara stres tinggi dan kolesterol tinggi. Meskipun ada faktor lain yang dapat menyebabkan kolesterol tinggi, tampaknya stres juga bisa menjadi salah satunya. Bersamaan dengan obat-obatan, dokter maupun ahli gizi mungkin merekomendasikan perubahan gaya hidup untuk membantu mengelola gejala dan mengurangi risiko kolesterol tinggi di masa depan.

Kenali dan kontrol kondisi mental bantu cegah kolesterol

Pengobatan dan pencegahan

#1 Mengatasi stres

Karena ada korelasi antara stres dan kolesterol, mencegah stres dapat membantu mencegah kolesterol tinggi yang disebabkannya.

Stres kronis jangka panjang lebih merusak kesehatan dan kolesterol daripada stres jangka pendek. Menurunkan stres dari waktu ke waktu dapat membantu mencegah masalah kolesterol. Meskipun tidak dapat menghilangkan stres dari hidup, ada pilihan yang tersedia untuk membantu mengelolanya.

Mengatasi stres, baik singkat atau berkelanjutan, bisa jadi sulit bagi banyak orang. Mengatasi stres bisa sesederhana mengurangi beberapa tanggung jawab atau berolahraga lebih banyak. Terapi dengan psikolog terlatih juga dapat memberikan teknik baru untuk membantu pasien mengelola stres.


#2 Olahraga

Salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan untuk mengatasi stres dan kolesterol adalah berolahraga secara teratur. The American Heart Association merekomendasikan berjalan sekitar 30 menit sehari, tetapi mereka juga menunjukkan bahwa bisa mendapatkan tingkat olahraga yang sama hanya dengan membersihkan rumah!

Tentu saja, pergi ke gym juga disarankan, tetapi jangan terlalu memaksakan diri untuk tampil bugar dalam semalam. Mulailah dengan tujuan sederhana, bahkan latihan singkat, dan tingkatkan aktivitas seiring waktu.

Ketahui jenis olahraga rutin yang sesuai dengan kepribadian seseorang. Jika lebih termotivasi untuk melakukan latihan yang sama pada waktu yang teratur, patuhi jadwal. Jika mudah bosan, tantang diri dengan aktivitas baru.

#3 Makan sehat

Sahabat Sehat, Anda juga dapat memengaruhi kadar kolesterol secara signifikan dengan makan lebih sehat! Mulailah dengan mengurangi lemak jenuh dan lemak trans di keranjang belanjaan. Alih-alih daging merah dan daging olahan, pilihlah protein yang lebih rendah lemak seperti unggas dan ikan tanpa kulit. Gantilah produk susu berlemak penuh dengan versi rendah atau tanpa lemak. Makan banyak biji-bijian dan produk segar, dan hindari karbohidrat sederhana (gula dan makanan berbahan dasar tepung putih).

Hindari diet dan fokuslah pada perubahan sederhana dan bertahap. Satu studi menunjukkan bahwa diet dan sangat mengurangi asupan kalori sebenarnya terkait dengan peningkatan produksi kortisol, yang meningkatkan kolesterol. Selain itu bila kesulitan untuk mengontrol makan, cobalah untuk puasa dan detoks secara rutin.

#4 Pengobatan dan suplemen alternatif

Jika mengurangi stres belum cukup menurunkan kolesterol tinggi, ada pengobatandan pengobatan alternatif yang dapat dicoba. Dan perlu diingat ini merupakan pilihan terakhir setelah mengusahakan pola hidup sehat.

Obat-obatan dan pengobatannya meliputi :

  • ekstra statin
  • niacin
  • fibrates
  • asam lemak omega-3

Baik menggunakan obat resep atau suplemen alternatif, selalu konsultasikan dengan dokter sebelum membuat perubahan apa pun pada rencana perawatan. Meskipun alami, perubahan kecil dalam rencana perawatan dapat mengganggu pengobatan atau suplemen yang sudah dikonsumsi.

Stres dimulai dan diakhiri oleh pikiran, menenangkan pikiran sejenak merupakan cara ampuh untuk mengatasi stres

Bonus: Tehnik Manajemen Stres

Ada beberapa teknik manajemen stres yang dapat membantu saat merasa stres. Viral saat ini adalah istirahat ’10 detik’. Ini dilakukan dalam situasi yang sangat menegangkan ketika merasa seperti akan kehilangannya. Setelah menyadari bahwa diri kita sedang marah, coba menutup mata dan membayangkan tempat paling tenang di dunia yang pernah dikunjungi. Cobalah berhenti memikirkan apapun selama 10 detik.

Bayangkan hal-hal menyenangkan, bisa jadi makan malam yang tenang dengan teman atau pasangan, atau kenangan dari liburan, di mana saja boleh selama itu santai. Dengan mata tertutup dan pikiran tertuju pada tempat tenang, tarik napas perlahan selama 5 detik, tahan napas sejenak, lalu buang napas selama 5 detik berikutnya. Tindakan sederhana ini akan membantu di saat-saat stres.

Saran lebih sederhana, cobalah untuk membatasi diri membaca berita-berita negatif, uninstal sosial media untuk beberapa hari. Maka Anda akan menemukan ketenangan yang baru dan menyenangkan.

Ingin tahu lebih banyak seputar Kolesterol? Pastikan ikuti diskusi kami bersama Dokter Gizi. Jangan lupa ikutan Intagram Live Session @sehatbarengitsbuah pada hari Kamis tanggal 14 Oktober 2020 Pukul 16.00 WIB bersama dengan dr Sudah dapat tanya jawab langsung dengan pakar bisa bawa pulang doorprize lagi! Jangan lupa ya, Sahabat Sehat.

 

Referensi :

  • What is cholesterol? (n.d.) nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/hbc

  • Bergmann, N., Gyntelberg, F., & Faber, J. (2014, June 1). The appraisal of chronic stress and the development of the metabolic syndrome: A systematic review of prospective cohort studies. Endocrine Connections, 3(2), R55-R80. ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4025474/
  • Catalina-Romero, C., Calvo, E., Sanchez-Chaparro, M. A., Valdivielso, Sainz, J. C., Cabrera, M., … & Roman, J. (2013, January 2). The relationship between job stress and dyslipidemia. Scandinavian Journal of Public Health, 41, 142-149 sjp.sagepub.com/content/41/2/142.abstract
  • Moore, C., & Cunningham, S. (2012, April 1). Social position, psychological stress, and obesity: A systematic review. Journal of the Academy of Nutrition and Diet, 112(4), 518-26 ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22709702
  • Stress can increase your risk for heart disease. (n.d.) urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=1&ContentID=2171
  • Stress management. (2013, July 11). mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/in-depth/stress/art-20046037
  • Tomiyama, A., Mann, T., Vinas, D., Hunger, J., DeJager, J., & Taylor, S. (2011, May 1). Low calorie dieting increases cortisol. Psychosomatic Medicine, 72(4),357-362 ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2895000/


Beri tahu teman-teman Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Konsultasi ke CS